Selasa, 12 November 2013

Kisah Tutur Tinular

Malam ini, ayah menceritakanku sebuah kisah tentang nama Ratih Puspita Octavia yang ia hadiahkan kepadaku.

Nama itu ayahku ambil dari sebuah kisah legendaris berjudul "Tutur Tinular" yang sangat ia gemari.

Aku rasa tidak ada salahnya kalau aku menjadikan kisah ini sebagai pengantar tidur kita malam ini. Baiklah, segera berbaring dan tarik selimut sampai ke leher, pejamkan mata dan dengarkan kisah ini baik-baik :)

Alkisah, hiduplah seorang pemuda gagah nan tampan yang mumpuni dalam olah kanuragan (ilmu untuk meringankan tubuh yang mampu membuatnya lari melesat bagaikan terbang, lalu melayangkan pukulan dua belas jurus) sehingga ia ditakuti oleh musuh-musuhnya. Pendekar ini juga dikenal sangat pemberani dan pantang mundur melawan musuh dengan bantuan sebuah pedang sakti bernama Pedang Naga Puspa buatan Mpu Ranubhaya (*kemudian nama Puspa inilah yang dipakai menjadi ide nama Puspita sebagai nama tengahku*). Namun disisi lain, ia sangat kesulitan dalam menaklukan perasaanya sendiri untuk mengutarakan cintanya kepada seorang perempuan yang merupakan cinta pertamanya.

Marilah kita panggil pemuda ini dengan nama Arya Kamandanu.

Dalam cerita ini, Arya Kamandanu dikisahkan jatuh cinta kepada seorang gadis jelita bernama Dewi Nari Ratih, seorang kembang desa Manguntur, anak dari Rakryan Wuru, bekas salah satu kepala prajurit Singhasari.
Parasnya yang cantik membuatnya menjadi rebutan pemuda di desanya. Salah satunya bernama Dangdi, putera kepala desa Manguntur yang selalu mengejar-ngejar cinta Nari Ratih. Namun, karena hati Nari Ratih pun sudah berlabuh kepada Kamandanu, maka Ratih pun menolaknya sehingga terjadi perselisihan antara Kamandanu dengan Dangdi.

Saat itu, Kamandanu masih sangat polos, meski ia sangat mencintai Ratih, ia selalu ragu-ragu dalam mengungkapkan perasaan cintanya kepada Ratih sehingga Ratih kerap kali kecewa akan sikap Kamandanu yang kurang tegas ini.

Arya Dwipangga, kakak kandung Kamandanu yang mengetahui hal ini mencoba membantu mendamaikan keduanya, Dwipangga yang dikenal pandai membuat syair. diam-diam sering mengirimkan bait-bait yang indah kepada Ratih dengan mengatasnamakan Kamandanu.

Pelangi muncul diatas Kurawan
Warnanya indah bukan buatan
Seorang gadis ternganga keheranan
Rambutnya tergerai jatuh ke pangkuan

Sekuntum cempaka sedang mekar di taman sari desa Manguntur
Kelopaknya indah tersenyum segar
Kan kupetik cempaka itu untuk kubawa tidur malam nanti

Kubuka daun jendela dan terbayang malam yang indah dihiasi chandra kartika
di bulan Waisya ini
Sepuluh kali aku melewati pintu rumahmu yang masih rapat terkancing dari dalam
Kapan kau buka
Wahai sang dewi puspa

Pelangi itu muncul lagi
Membuat garis melengkung ke langit tinggi
Daun ilalang diterpa angin gemerisik membangunkan tidurku dari mimpi buruk
di batas tugu yang indah ini ku pahat dengan bermandikan keringat kasih
Kalau kau tatap mega yang berbunga-bunga
Disanalah aku duduk menunggu pintu maafmu terbuka

Pelangi senja mengantarkan burung-burung pulang ke sarangnya
Domba-domba pulang ke kandangnya
Tapi aku hendak kemana
Apa yang kulakukan menjadi tak berharga selama senyummu masih kau sembunyikan dibalik keangkuhan hatimu

Nari Ratih
Kau adalah sebongkah batu karang
Tapi aku adalah angin yang sabar setia
Sampai langit diatas terbelah dua
Aku akan membelai namamu bagaikan bunga

Jika hari telah tidur dipangkuan malam
Kukirim bisikan hatiku ini bersama angin
Biarpun malam pucat kedinginan
Biarpun bintang merintih dilangit yang jauh
Aku akan tidur dengan tenang
Sambil memeluk senyummu dalam kehangatan mimpiku

Aku berkelana mencari cinta ke desa-desa yang jauh
Akhirnya di candi Walandit kupuaskan dahagaku

Ratih menjadi begitu bahagia dan segera menemui Kamandanu, tetapi begitu mengetahui bahwa bait-bait syair itu bukan tulisan Kamandanu, Ratih pun merasa dipermainkan. Maka, terjadilah perselisihan diantara keduanya.

Kamandanu menyampaikan ketidaksukaannya kepada Dwipangga yang sudah turut campur urusan asmaranya. Maka, Dwipangga segera menemui Ratih bermaksud menjelaskan kejadian yang sebenarnya, tetapi begitu melihat kecantikan Ratih, Dwipangga malah terpesona dan menaruh hati kepada Ratih.

Meskipun sedarah dengan Kamandanu, Dwipangga memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Kamandanu. Ia sangat licik dan pendendam serta gemar memikat wanita dengan syair karyanya yang selalu mengagumkan. Maka, tidak peduli meski Kamandanu sangat mencintai Ratih, Dwipangga berniat untuk merebut cinta pertama Kamandanu tersebut.

Akhirnya Dwipangga menjadi semakin sering menuliskan syair yang indah untuk Ratih. Lama kelamaan, Ratih pun terbuai oleh bait-bait yang dikirimkan Dwipangga. Tanpa sepengetahuan Kamandanu, Dwipangga sering melakukan pertemuan dengan Ratih sehingga pada suatu ketika terjadilah peristiwa di candi walandit. Nari Ratih yang lugu dibuat terpesona oleh Dwipangga sehingga ia bersedia memadu kasih dengan Dwipangga dan meninggalkan Kamandanu.

Arya Kamandanu yang memergoki kejadian ini sangat terpukul hatinya sehingga terjadi pertengkaran hebat dengan Dwipangga. Ketika Ratih dan Dwipangga akhirnya menikah, Kamandanu memilih meninggalkan rumah dengan mendalami ilmu kanuragan kepada Mpu Ranubhaya.

Kamandanu yang memutuskan berpetualang akhirnya bertemu dengan seorang gadis China bernama Mei Shin. Kebersamaan diantara mereka berdua akhirnya membuat keduanya saling jatuh cinta.

Kehidupan Ratih dan Dwipangga ternyata tidak berjalan harmonis. Setelah menikah dan melahirkan seorang putera bernama Panji Ketawang, Ratih kerap kali mendapat siksaan dari suaminya itu hingga ia akhirnya meninggal dunia.

Kematian Ratih kemudian membuat Dwipangga kembali membuat ulah dengan menodai Mei Shin yang kemudian mengandung seorang anak perempuan yang diberi nama Ayu Wandira.

Meskipun dengan hati terpukul, Kamandanu tetap berjiwa besar menikahi Mei Shin demi menghindari perlakuan Dwipangga yang sama terhadap cinta pertamanya. Akhirnya, iapun mengasuh Ayu Wandira dan Panji Ketawang seperti anaknya sendiri.

Tamat

Kamis, 25 Juli 2013

Lovely Fathma

Namanya Fathma . Warga negara Afghanistan.
Ketika pertama kali bertemu dengannya usiaku 16, dia 8 tahun .

fathma

Selama beberapa bulan dia tinggal di sebelah rumahku. Sebenarnya itu bukan rumah tinggal, tetapi sebuah villa yang memang biasa disewakan kepada orang asing. Itulah mengapa dari bangunan bercat dinding hijau tersebut aku sering mendapatkan teman baru yang kesemuanya adalah manusia-manusia yang berasal dari belahan dunia yang jauh diujung sana . Tempat-tempat yang bahkan membayangkannya saja aku belum pernah.

Biasanya orang asing yang tinggal disana adalah sebuah keluarga. Beberapa kadang memiliki anak yang sebaya denganku. Karena letak rumahku dan bangunan itu bersebelahan dan tidak ada rumah lain disekitarnya, maka mau tidak mau keluargaku akan menjadi tetangga paling dekat dengan para turis tersebut.

Suatu hari .. bangunan kosong itu memiliki penghuni lagi .

Aku tidak tahu persis berapa orang penghuni yang baru datang itu . Mereka tiba saat hari sudah gelap, waktu itu aku belum tidur, masih asyik memandang langit malam . Aku rasa perbedaan waktu Indonesia dengan negara mereka membuat mereka butuh banyak waktu untuk beradaptasi. Beristirahat sejenak satu atau dua hari.

Tepat di hari kelima sejak kedatangan mereka, saat aku sedang memberi makan Cookie dan Creamy, dua ekor hamster jenis winter white yang aku pelihara dalam sebuah aquarium berukuran lumayan besar. Seorang gadis bermata hijau dengan rambut tipis berwarna cokelat muda memandangku dari teras rumah, penasaran dengan apa yang aku lakukan.

Aku menoleh kearah gadis itu, ragu-ragu menghampiri .

"What are you doing ?" gadis itu malu-malu bertanya..

"Just feeding my pets . Hey, you are my new neighbour, right ? Where do you come from ?"

"Afghanistan. My Name is Fathma" Dia memperkenalkan diri sebelum aku meminta,, aku menyebutkan namaku tapi rupanya namaku terlalu sulit dia ucapkan sehingga terdengar lucu dan menggelikan bahkan ditelinganya sendiri.

"Puphot ? Roateh ? What kind of name is it " gadis kecil itu terkekeh, kedua ujung alisnya bertemu di tengah keningnya, tatapan mengolok . Aku dibuat malu dengan namaku sendiri untuk pertama kalinya.

"Forget it. Can you speak Indonesian ? Or Sundaneese maybe ?" Aku mulai ngaco. Ia menggeleng mantap.

"I am school at International School. It used to use English, Afghanistan and Urdu. We haven't learned Indonesian"

Selama beberapa menit kami berbincang-bincang. Aku sebenarnya kacau dalam berbicara bahasa Inggris. Grammar-ku berantakan, tenses apalagi. Jadi saat melakukan percakapan dengan Fathma, aku lebih banyak menjadi pendengar. Sesekali mengeluarkan kata-kata pamungkas. Yes or No .

Sejak saat itu ia sering datang ke rumahku.. Bahkan lebih ekstrem tiba-tiba sudah duduk manis di tempat tidurku, menungguku pulang sekolah. Ia gadis yang manis dan ramah, keluargaku sangat menyukainya. Oh ya, sejak saat itu, kami jadi sering bertukar cerita.

Hingga akhirnya ceritanya sampai pada kisah hidupnya.

Fathma,
Siapa sangka gadis berkulit pucat yang sedang asyik memainkan boneka barbie-ku sambil memamerkan gigi kelinci itu justru sedang mencari suaka ke negara-negara nun jauh di ujung benua.

Gadis itu bercerita, disuatu malam yang lumayan tenang untuk negeri yang sedang dilanda peperangan pada saat itu. Dengan mengejutkan beberapa tentara merangsek masuk ke tempat keluarganya tinggal.
Fathma masih terlalu kecil untuk paham apa yang terjadi.

Jantungnya berdegup keras, kaget karena tiba-tiba terjaga dari mimpi indahnya, yang entah apa.

Ia hanya mendengar kata-kata Taliban dari sang ibu. Mendengar kata itu saja cukup, ia sudah tahu ada yang tidak beres.

Fathma kecil berlari mengamankan Waffa, adiknya yang berusia 5 tahun. Ia membawa adiknya bersembunyi di dalam lemari pakaian .

Ia bercerita,

Afghanistan sedang dilanda peperangan saat itu. Banyak sekali tentara Taliban dan Amerika Serikat berkeliaran diluar rumahnya. Satu-dua bersembunyi dibalik reruntuhan gedung yang hancur karena bom molotov. Meskipun sudah ada larangan mengusik penduduk sipil, tidak sedikit warga yang jadi pelanduk, mati ditengah-tengah.

Ayah Fathma yang merupakan orang penting disana memutuskan untuk bertahan di tanah airnya. Nekat tinggal di tengah carut-marut kota yang sedang bergejolak.

Aku menatap wajah gadis itu. Menyimak dengan seksama kisahnya. Fathma yang melihat ekspresi tegangku semakin asyik bercerita, begitu tenang, santai. Seakan-akan kisah yang ia ceritakan adalah dongeng cinderella yang akan berakhir bahagia.

Fathma kecil mulai mendengar suara-suara gaduh dari luar lemari. Ia berharap ibunya yang terakhir kali ia temui sedang khusyuk membaca ayat suci, baik-baik saja.
Ia mengintip sedikit keluar. DOR. sebuah peluru melesat di kepala sang paman yang sedang bertahan menyembunyikan sang ayah. darah bercucuran dimana-mana. Ia melihat pamannya yang sudah terbaring lemah di seret paksa keluar. Malam itu Fathma menangis.

Waffa yang terus bertanya apa yang terjadi dibungkam mulutnya, takut keberadaannya diketahui. Fathma sendiri ketakutan, tapi ia tahu ia harus tegar menjaga adiknya. Ia memeluk hangat adik perempuannya itu, memandang mata Waffa yang berwarna cokelat muda dan berkata dalam bahasa Arab, "Jangan takut, Allah bersama kita. Kita akan baik-baik saja.."

Malam itu suara meriam memecahkan keheningan. Waffa sudah tertidur pulas ditumpukan selimut dalam lemari. Fathma melangkah perlahan,.. Mencari Ummi dan Abi.

Syukurlah, ayahnya masih hidup. Ia mengangkat tubuh kecil Fathma dan menyuruhnya berkemas. Perjalanan panjang akan dimulai.
Fathma melihat raut kesedihan di wajah ayahnya. Mereka berdua menoleh kearah bercak darah pamannya tadi yang membentuk garis panjang yang menuju keluar pintu. Jasad pamannya sudah ditarik paksa oleh tentara, tapi mereka yakin jiwanya akan ikut serta dalam perjalanan mereka.
Paman sudah berkorban, semoga Allah menempatkan ia di Surga-Nya.

Esok paginya sebelum matahari terbit, Fathma sudah diajak pergi meninggalkan rumahnya. Tujuan mereka adalah ke Australia, negara yang menyediakan perlindungan bagi warga sipil Afghanistan yang menjadi korban konflik. Ayah Fathma hanya akan mengantar sampai tujuan kemudian kembali ke medan peperangan. Maka sebelum mereka meninggalkan bangunan tempat Fathma tumbuh besar itu, mereka mengadakan salam perpisahan. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi. Boleh jadi ini adalah pertemuan terakhir. Keluarga kecil itu saling berpelukan. Saling berjanji mereka akan bertemu di Surga-Nya Allah.

Aku menatap wajah Fathma, tak kuat menahan air mata. Gadis itu masih tegar meneruskan kisahnya. Sesekali tertawa melihat mimik wajahku yang mendadak menyedihkan.
Fathma membuka sleting pakaian di punggungnya, memamerkan sesuatu, siapa sangka gadis yang mudah sekali tertawa itu menunjukan bekas luka besar di bagian lengan belakangnya, terkena reruntuhan gedung.
Aku yakin, luka di hatinya pasti lebih besar lagi.

Sekarang ia menjadi tetanggaku, ia dan keluarganya transit di Indonesia kemudian memilih menetap satu atau dua bulan. Selama itu, ia menjadi temanku. Teman yang tidak akan pernah ku lupakan.

Terakhir kali kami bertemu, aku memberinya kenang-kenangan sebuah kerudung berwarna merah, sebenarnya itu pemberian tanteku. Kemudian ia menukarnya dengan sebuah kartu, ia tidak memberikannya langsung kepadaku saat ia pamit karena aku belum pulang dari sekolah melainkan menitipkannya melalui ibuku.

Ketika aku membuka kartu itu, bagian dalamnya bertuliskan "Don't you ever be afraid. Allah is always beside us".

Aku menangis. Sungguh, gadis itu telah didewasakan kehidupan.




Selasa, 23 Juli 2013

dear my first love ..

February 22th, 2012 ..

Sebelumnya, saya minta maaf kalau saya mendadak menulis catatan ini, untuk kamu ..
Ya, kamu ..
Tapi rasanya semua orang harus tau, sekarang saya menyadari sepenuhnya, bahwa saya .. Sangat mencintai kamu .

Masih ingat ?

Waktu saya tidak diterima di sekolah yang saya impikan, selama seminggu lebih saya mogok makan dan mengurung diri di kamar . Waktu itu saya sakit, kamu masuk ke kamar dan langsung memeluk saya . Kamu mengusap rambut saya dan berkata bahwa saya tetap yang terbaik buat kamu . Dan kamu, ingin saya tersenyum lagi .

Masih ingat ?

Saat saya meraih juara umum di smp, kamu berdiri di hadapan saya dengan memegang sebuah kamera, mengabadikan senyuman dan kebahagiaan saya . Kamu tersenyum, dan mengatakan bahwa saya ..yang terbaik .

Masih ingat ?

Kita berlibur ke pantai dan saya tenggelam di tengah laut . Karena terkena racun cumi-cumi badan saya gatal-gatal . Padahal semua orang sedang menikmati liburannya . Di dalam bis, kamu bernyanyi untuk saya, dan saya tertidur di pelukan kamu .

Masih ingat ?

Setiap ulang tahun saya, kamu adalah orang pertama yang selalu tiba-tiba muncul di kamar saya . Dan berpesan, selalu sama .. Tetaplah jadi yang terbaik .

Masih ingat ?

Waktu kamu mengajak saya datang ke panti asuhan dan membiarkan saya bergabung bersama para yatim piatu . Kamu berpesan, jadilah yang terbaik untuk mereka suatu saat . Dan kamu, mengajarkan saya untuk menyayangi sesama .

Masih ingat ?

Kamu tidak pernah mengabulkan permintaan saya untuk datang ke tempat bermain di mall . Kamu justru mengajak saya ke toko buku dan membiarkan saya mengambil sebanyak-banyaknya . Kamu mengajarkan saya untuk selalu memilih yang lebih bermanfaat . Dan sepulang dari sana, kamu, membuat tempat bermain menyenangkan dirumah dengan menemani saya bermain game di komputer atau membuat boneka dari lilin ..

Masih ingat ?

Kamu tidak pernah mengajak saya makan di tempat yang sama . Warung kaki lima sampai resto bintang lima kita jajaki . Kamu, mengajarkan saya untuk selalu siap menerima segala suasana .

Masih ingat ?

Kamu tidak mengambilkan bunga yang tumbuh di depan rumah sekalipun saya sudah merengek . Kamu bilang bunga itu bisa saya petik dan miliki sendiri, tapi setelah itu akan kering dan mati . Atau saya bisa membiarkannya tumbuh, berkembang biak, dan dinikmati semua orang yang lewat . Kamu, mengajarkan saya untuk tidak serakah dan mementingkan diri sendiri ..

Masih ingat ?

Ketika mos sma, saya menangis tengah malam karena tidak bisa membuat topi dan kamu, malah menonton televisi . Saya marah . Tapi saya terus mencoba sampai topinya jadi, walaupun bentuknya tidak karuan . Lelah membuat saya cepat tertidur dan esok paginya, diatas meja rias .. Saya melihat sebuah topi karton merah muda yang cantik dan jauh lebih bagus dari yang saya buat tadi malam . Topi itu, kamu buat . Dan saya, dibiarkan bekerja keras untuk mendapatkan hasil sekecil apapun, dan tugasmu .. Adalah menyempurnakannya .

Masih ingat ?

Saya pernah memprotes saat kamu membelikan saya handphone monokrom saat semua teman saya justru sudah memakai handphone dengan fitur-fitur canggih dan label harga tinggi . Saya marah dan saya bilang kamu membiarkan saya tampil tidak sekeren teman-teman saya padahal saya yakin kamu mampu . Saya, kamu peluk, dan kamu bilang, semua orang akan mencintai saya, karena saya .. Sederhana .

Masih ingat ?

Kamu melarang saya memenuhi seragam smp saya dengan tinta, pilok dan warna warni tanda tangan teman saya . Saya kira kamu tidak gaul. Saya menghubungi teman saya dan menceritakan betapa saya sangat kesal dengan sikap kamu . Lalu kamu, mengajak saya kerumah tetangga dan menunjukan kepada saya sebuah senyuman haru dan gembira dari orang lain saat kamu memberikan semua seragam saya yang sudah dilipat rapi dan bersih kepada tetangga saya itu .

Masih ingat ?

Kamu selalu melarang saya menginap dirumah teman saya . Saya kira kamu over protektif . Tapi suatu hari saya mengerti, saat kamu bilang kamu rasanya tidak bisa, saat melihat ke kasur saya, dan saya tidak ada disana . Kamu, hanya ingin memastikan, saya tidur dengan nyenyak .

Masih ingat ?

Kelulusan smp, saya mengalami syndrome minder . Kamu tahu, saya tidak pede dengan make up dan kebaya . Dan kamu, adalah satu-satunya yang meyakinkan saya, kamu bilang .. Saya merasa tidak cantik, karena setiap pagi bercermin dan sudah biasa melihat wajah yang lebih cantik daripada balutan kulit yang di tutup dengan berbagai kosmetik ini . Dan kamu, membuat saya, merasa cantik .

Masih ingat ?

Kita pernah punya pembantu yang biasa mengurusi semua pekerjaan rumah, kamu memberinya kamar, makan dan pakaian . Dan saya, kamu marahi waktu saya memarahi dia karena tidak memisahkan sambal di bubur saya . Saya pikir kamu tidak adil , tapi saya sekarang tahu, kamu mengajarkan saya untuk memanusiakan manusia .

Masih ingat ?

Kamu menyuruh saya menyalami dan mencium tangan seorang penjual pisang yang sudah renta, kamu pun melakukan hal yang sama, lalu membeli beberapa sisir pisang yang ia jual . Seperginya tukang pisang itu kamu berkata, dia guru ngaji saya . Dan sekali lagi, kamu mengajarkan saya untuk selalu mengingat jasa dan kebaikan orang lain dengan cara tetap menghormatinya setinggi apapun pangkat dan kedudukan kita di dunia .

Masih ingat ?

Kamu tidak pernah membela saya waktu saya berkelahi dengan teman saya . Saya kira kamu tidak peduli, tapi rupanya kamu sedang mengajarkan saya untuk tidak membela permusuhan ..

Masih ingat ?

Saat saya bilang saya merasa bodoh karena sering mengikuti kelas remedial eksak . Kamu, saya peluk . Dan kening saya, kamu cium . Kamu bilang .. Setiap orang punya jatah gagal yang sama, dan orang yang berhasil adalah orang yang mencoba menghabiskan jatah gagalnya dengan terus mencoba .

Masih ingat ?

Saya pernah jatuh dari sepeda, dan kamu hanya memperhatikan saya dari jauh . Kamu tidak menghampiri saya sampai saya akhirnya bangun sendiri sambil menangis . Saya mengangkat sepeda saya dan berjalan dengan lutut yang berdarah . Saat saya berada dekat dengan kamu, kamu mengangkat tubuh saya, dan kamu bilang kamu tahu, saya kuat .


Masih ingat ?

Waktu kamu sakit, saya tidak bisa bermain karena menjaga kamu . Kamu memaksa saya tidak meninggalkan kamu . Kamu bilang kamu ingin sembuh . Karena kamu takut mati . Kamu tidak mau saya kehilangan kamu dan kamu kehilangan saya . Kamu tahu, tak ada yang bisa mencintai saya setulus dan semurni cinta kamu, untuk saya .

Teruntuk cinta pertamaku, mutiaraku, jiwa dan ragaku .

Cinta pada pandangan pertamaku, Ibunda Lilis Kurniati Nilawidyanti .

Ratih Puspita Octavia 2 bulan


Terima kasih sudah menjadi mama yang sempurna, . Semoga Allah membalas kebaikan kamu.

Dari saya,yang mencintai kamu . Ananda Ratih Puspita Octavia ♥

Selasa, 09 Juli 2013

MARHABAN YAA RAMADHAN



Segenap crew adLOVEnture beserta Ratih dan calon suami (yang masih ada ditangan tuhan) mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa,
semoga menjadi haji yang mabrur.
ga nyambung ? ah kajeun wae.

Jumat, 28 Juni 2013

flashback : 22 Oktober 2012

suatu malam, tahun lalu,
22 Oktober 2012, beberapa hari sebelum ulang tahunku.

malam itu hujan deras baru saja berhenti, aku menatap kaca mobil angkutan umum yang sudah berembun. dingin.
aku hendak pulang setelah menghabiskan hari ini bersama teman-teman, agak lelah.
kami main di salah satu game center di kota Bogor, karaoke, dan berbelanja beberapa potong pakaian walaupun sebenarnya aku belum terlalu butuh, hanya ikut teman-teman.

aku duduk di bangku sebelah kiri dekat pintu. mobil angkutan umum ini lumayan kosong,
hanya ada aku dan dua orang laki-laki, yang satu duduk di bangku depan dekat supir.

baru seperempat perjalanan, naiklah seorang anak perempuan, pengamen.
tubuhnya kurus, hitam manis, rambutnya panjang bau khas matahari dikuncir seperti ekor kuda,
ia tidak duduk di bangku, melainkan di jalan masuk penumpang seperti kebanyakan pengamen.
gadis itu sebenarnya manis, ia punya sepasang lesung pipi yang menggemaskan, namun kulitnya yang berdebu membuatnya tampak tidak terurus, lusuh.

aku terus memperhatikan pengamen cilik itu, ia sudah hampir 5 menit duduk di bawah tapi tidak juga memainkan ukulele-nya untuk bernyanyi, aku bisa merasakan ia menghembuskan nafas panjang.
kami berdua sama-sama terlihat lelah dan tidak bertenaga,
hanya bedanya, aku habis bermain bersama teman-teman, sedangkan gadis ini nampak sekali habis memikul sebuah beban, kehidupan jalanan.

setelah cukup lama, aku sadar dia memang tidak berniat ngamen seperti biasanya.

aku menepuk pundaknya, kemudian beralih menepuk bangku kosong di sebelahku.
"sini.." aku tersenyum tipis, ia menoleh kearahku, sebentar, membalas senyumanku, kemudian menggeleng sopan.

"gak apa-apa, temenin kaka ngobrol..bosen sendirian nih.." aku meyakinkan, begitu penasaran dengan gadis kecil ini.

ia menurut, langsung beranjak dari tempat duduknya .

"mau kemana ?" aku bertanya lembut, hati-hati dengan gadis bermata sayu ini.

"pulang, habis ngamen ka .."

"kok keliatan sedih ? kenapa ?" aku semakin penasaran, gadis itu menarik bibirnya, ragu-ragu bercerita.

aku mengusap pundaknya yang kecil, ia tidak lebih besar dari keponakanku, paling-paling baru duduk di kelas dua SD,

gadis itu menarik nafas, "tadi habis ngamen tapi uangnya diambil semua sama anak punk.."
aku tercekat, ikut sakit hati.

"berapa yang mereka ambil ?"

"sembilan belas ribu.", aku kaget, bagaimana mungkin seorang gadis kecil ini begitu sedih kehilangan beberapa rupiah yang bahkan sama sekali tidak sebanding dengan harga yang baru saja aku keluarkan untuk sekedar ongkos kendaraan ke tempat yang dijanjikan teman-teman tadi.

"itu hasil seharian ka, agak sepi, tadi juga hujan gede, orang-orang gak banyak ngasih" ia menambahkan.

"kok kamu yang kerja ? ayah kamu kemana ?" aku merendahkan suara. takut ia tersinggung. aku sebenarnya enggan menanyakan hal ini, tapi kemudian aku begitu didesak penasaran.

"ada, tapi gak kerja, paling cuma main lotre."

aku merasa marah, entah pada siapa, aku berusaha mengendalikan perasaanku.

"oh iya, kaka gak tau nama kamu.."aku mengalihkan pembahasan.

"Desi, kak.."

"kamu sekolah ?" , ia mengangguk.

"tebak-tebakan yuk, pasti kelas dua SD ya ?"

"tiga." ia mulai tertawa kecil.

"berarti delapan tahun ?" aku menggodanya lagi, masih bermain tebak-tebakan.

"iya, empat hari lagi . hehe." gadis itu terkekeh, gigi depannya yang panjang membuatnya nampak manis.

"26 bulan 10 ?" aku kaget, gadis itu mengangguk mantap.

"sama, kaka juga empat hari lagi depalan belas tahun, berarti ulang tahun kita samaan ? oh iya, kan tahun ini barengan sama idul adha, jadi ulang tahun kita dirayain umat islam sedunia.." aku mencoba bercanda.

"iya, dirayain sama semua kambing qurban ya ka ? hehe" ia mulai ikut dalam percakapan, kami mulai terlihat seperti kakak-adik .

aku tersenyum simpul, gadis ini begitu menyenangkan. sopan walaupun hidup di dalam kerasnya jalanan.
malam itu kami berbicara panjang lebar, asyik dengan segala persamaan yang kami temukan. ia bercerita kalau ia baru saja mendapat peringkat satu di kelasnya, dari gaya bicaranya aku tahu dia anak yang pandai.

dua orang gadis, terpaut usia 10 tahun, hari ulang tahun yang sama, hidup di keluarga yang berbeda.
sejak hari itu mereka berdua memutuskan untuk bersahabat.

gadis itu membantuku melihat kehidupan dari sisi yang lain. seperti guru yang penuh pengalaman, gadis itu mengajarkanku bagaimana menjadi anak perempuan, harus tangguh, mandiri, dan bisa diandalkan.

dibandingkan gadis itu, aku memang jauh belum ada apa-apanya tapi setelah ini aku berjanji akan terus mencoba. demi pertemuan malam ini, dan rasa syukur atas segala yang sudah aku miliki, aku berjanji aku tak akan mengeluh lagi.


Minggu, 23 Juni 2013

Rumus Kehidupan

ketika aku menulis tulisan ini, banyak sekali hal dalam hidupku yang sudah berubah.

kamar kakak perempuanku mendadak kosong setelah keberangkatannya beberapa hari lalu ke Swedia,

tangan ayah dan ibuku makin jelas keriputnya saat aku mencium tangan mereka sepulang kuliah,

bingkai berisi fotoku dengan seseorang yang (tadinya) special buatku pun sudah berpindah dari atas meja ke dalam kardus cokelat-dilakban rekat-dan disimpan di gudang bersama tumpukan benda-menunggu-dibuang lainnya.

aku menoleh ke arah dinding kamar, tempat beberapa ucapan ulang tahun dari keluarga, teman, dan kerabat aku tempel rapi.
ucapan yang terakhir, tentu saja, berisi beberapa doa dan harapan saat usiaku menginjak angka 18.
itu artinya aku sudah layak menonton tayangan berlabel 17+ . upps .

bukan,
bukan itu yang aku pikirkan . hehe

saat aku menatap lurus kearah kartu-kartu yang berjajar itu, aku melesat jauh ke hari-hari sebelumnya yang aku lewati.
aku membayangkan semua hari, hari yang baik-dan buruk.

aku melihat diriku sendiri tertawa terbahak bersama teman-teman, menangis sendiri di pojok ruangan, mendengus kecewa di depan papan pengumuman, dan tersipu malu saat melintas di hadapan seorang kakak kelas yang tersenyum manis kearahku.

aku membayangkan betapa banyak hari-hari yang sudah aku lewati.
sebagian besar menyenangkan, separuh lainnya rasa-rasanya aku dihimpit kesulitan.

aku juga kembali mengingat orang-orang yang pernah aku kenal.
yang jauh dan dekat, yang masih ada dan yang memutuskan untuk meninggalkan, yang hanya singgah dan yang bertahan.

lebih jelas lagi,
yang membuatku tertawa dan membuatku menangis.

semuanya terekam jelas seperti adegan melankolis yang diputar ulang di sebuah film layar lebar.

saat aku membayangkan semua hal dan pengalaman buruk, orang-orang yang membuatku sedih dan menangis, serta mengingat bahwa betapa banyak hal yang tidak bisa aku gapai dan aku lakukan,
aku merasa begitu sia-sia, tidak berarti, bodoh, kosong, dan tidak ada artinya. bahkan dalam kasusku, lebih parah, aku merasa begitu jahat dan dibenci karena aku tak bisa menjadi apa yang orang lain inginkan.

sementara itu ketika aku membayangkan wajah teman-teman yang terkekeh melihat leluconku, saat mengingat keponakan kecilku yang tertidur pulas dipangkuanku setelah ku bacakan dongeng dan saat aku menatap takzim kearah wajah bangga ayah saat namaku dipanggil sebagai juara umum di sekolah menengah pertama. aku merasa dadaku penuh oleh sesuatu yang membahagiakan, rasa-rasanya aku bahkan ingin hidup seribu tahun lagi.

oh- kemudian aku sadar sesuatu,
bahwa bagaimanapun, hidup selalu penuh warna.
dan setiap rasa sedih, bahagia, kecewa adalah tanda bahwa anugerah terbesar yang pernah dimiliki manusia yakni kehidupan masih Allah berikan.

aku hanya perlu menemukan rumusnya untuk menghadapi semua perubahan dalam hidup. maka kalau ini semua aku kuasai, hidup akan terasa begitu ringan dan menyenangkan.

kemudian aku menemukan bahwa aku hanya perlu memaafkan,
memaafkan orang-orang yang membuatku menangis, marah, kecewa, sedih dan kemudian menatap mereka dengan tatapan lembut penuh kasih sayang dan penghormatan.
termasuk memaafkan segala kesalahan diriku sendiri, karena bagaimanapun, aku pantas mendapatkan perlakuan baik.
selanjutnya aku tinggal melupakan semua kesalahan itu, dan mengingat hal-hal baik yang sudah aku dan orang lain lakukan untuk hidupku.

lalu, aku hanya perlu bersyukur..
bersyukur bahwa sampai detik ini aku masih hidup, bersyukur bahwa aku tak perlu merasakan hidup di zaman yang keji dan penuh tekanan, bersyukur atas sekecil apapun nikmat yang diberikan-Nya termasuk sepotong cokelat yang disodorkan ke dalam mulutku oleh adik sepupuku yang masih balita tadi pagi.
dan lebih lagi, bersyukur saat Allah memberi cobaan, it means Dia tidak merendahkan kekuatanku untuk menghadapi cobaan-Nya karena Dia tahu, aku kuat.

yang terakhir,
aku hanya perlu tertawa..
Tertawa saat kabar baik datang - tertawa lepas
Tertawa saat kabar buruk tiba - tertawa sambil menangis
Tertawa saat kabar benar2 buruk menghampiri - tertawa sambil terisak
Kita bisa selalu tertawa, dalam situasi apapun.
Karena percaya, besok lusa situasi akan lebih baik,
Dan kita bisa kembali tertawa lepas.

**Rumus ini saya dapat dari buku-buku yang menakjubkan, terima kasih Tere Liye dll. yang sudah menjadi pembimbing kepribadian saya, terima kasih :)

Sabtu, 22 Juni 2013

Apa sebenarnya hal yang paling mahal di dunia ini ?


Waktu


Tanyakan saja nilai satu tahun kepada orang yang tidak naik kelas 

Tanyakan betapa berartinya satu bulan kepada seorang ibu yang melahirkan prematur 

Tanyakan nilai satu minggu kepada para editor dan pengurus redaksi majalah mingguan 

Tanyakan arti satu hari kepada orang-orang yang menunggu pengumuman 

Tanyakan betapa berharganya satu jam kepada para pasangan kekasih yang baru saja bertemu 

Tanyakan nilai satu menit kepada para pelajar yang sedang ujian 

Tanyakan nilai satu detik kepada mereka yang ketinggalan kereta 

Dan tanyakan saja betapa berartinya sepersepuluh detik kepada para atlet olimpiade .

Rabu, 05 Juni 2013

Gn. Cikuray, Garut, Jawa Barat.

sebelumnya, gue mau berterimakasih sama temen-temen gue tercinta karena udah ngingetin gue sama blog ini.

hampir aja gue lupa kalo gue punya blog, DEMI TUHAAAAAAAANN.. *kemudian gue digebet Arya Wiguna*

tapi mari kita tunda sejenak kelanjutan kisah cinta Ratih dengan Morgan SMASH, eh salah, maksudnya Rama dan Shinta.

Akhir bulan Mei lalu gue dan temen-temen melancong lagi, kali ini kita menginjakkan kaki di ketinggian 2821mdpl, Gunung Cikuray, Garut, Jawa Barat.



Sebelumnya gue mau ngasih info soal gunung cikuray. Semua info disini akurat dan terpercaya karena gue copy langsung dari wikipedia, teu di edit-edit acan. Keren pan ?

Nah..

Gunung Cikuray adalah sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia. Gunung cikurai mempunyai ketinggian 2.821 meter di atas permukaan laut dan mrerupakan gunung tertinggi keempat di Jawa Barat setelah Gunung Gede. Gunung ini berada di perbatasan kecamatan Bayongbong, Cikajang, dan Dayeuh Manggung.

Untuk mencapai cikuray dapat ditempuh dengan naik kendaraan umum dari Bandung atau dari Tasikmalaya menuju terminal Guntur. Dari sana diteruskan dengan angkutan kota menuju jalur pendakian, (Cikajang, Bayongbong atau Dayeuh Manggung).

Ketiga jalur tersebut menawarkan medan yang sangat menarik dengan karakteristik masing-masing. Jalur bayongbong adalah jalur yang paling terjal, tetapi dapat cepat sampai di puncak. Jika anda bukan warga Jabar, mendaki Cikurai mesti satu paket dengan Gunung Guntur dan Gunung Papandayan. Keduanya menawarkan pendakian yang menarik.

KArena letaknya paling tinggi di kabupaten Garut, kaki gunung Cikuray dipakai untuk stasiun pemancar TV swasta dan TVRI. Gunung Cikurai mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, Hutan Montane dan Hutan Ericaceous.]

Tah eta.

Sekarang gue mau cerita pengalaman gue di negeri diatas awan ini.
Sebenernya gue hampir batal ikut pendakian kali ini karena beberapa hari sebelum pendakian gue terkena maag akut dan terpaksa harus istirahat selama beberapa hari.
Tapi karena niat serta rencana gue udah kuat, gue keukeuh berangkat kesana.

Singkat cerita,
Sampailah gue disana. Hari pertama tenaga gue cuma didapat dari biskuit bayi yang sengaja gue bawa. soalnya waktu itu gue masih sakit perut dan mual setiap kali perut gue diisi bayi, eh makanan maksudnya :(

Hari ke-2. Perjalanan dari pos 6 menuju puncak gunung cikuray.

Waktu itu gue sama salah satu sahabat baik gue, Fahrul Aprianas, tertinggal jauh di belakang rombongan yang lain karena gue sebentar-sebentar muntah.

Namanya Fahrul, tapi enakan dipanggil suroto.

Nyaris sampai pos 7, gue udah bener-bener lemes dan gak kuat, gue duduk di sebuah batang pohon yang tumbang dan minta fahrul ninggalin gue, ngelanjutin perjalanan karena gue udah gak kuat jalan dan memutuskan mengurungkan niat sampai di puncak, tapi sahabat gue yang maha baik plus maha leumeu ini bersikukuh nungguin sampe gue baikan dan nerusin perjalanan. so sweeet :")

Sial. Angin dingin subuh makin nusuk tulang. Tiba-tiba gue muntah lagi. Kali ini yang dikeluarin cuma cairan pait karena memang perut gue udah gak punya cadangan makanan. Ditambah baju yang basah karena kehujanan semaleman di dalem tenda yang bocor bikin gue sepertinya masuk angin juga.

Perut gue mulai kram. Kaki dan tangan kaku. Ujung-ujung jari sakit kayak ditusuk jarum. Suara Fahrul yang setengah berteriak mulai terdengar jauh, Fahrul lari nyari pertolongan sementara gue makin menggigil, tapi lama kelamaan mata gue mulai redup. Gue gak inget apa-apa lagi.

Sebuah tamparan yang cukup keras dan beberapa pukulan di punggung akhirnya bikin gue tersedak dan sadar. Gue batuk sejadi-jadinya.

Waktu itu gue udah dikelilingi banyak orang, tapi satupun gak gue kenal. 

Gue melirik kearah orang yang tadi nampar pipi gue, seorang perempuan cantik, beberapa tahun lebih tua dibanding gue. Disampingnya ada orang yang lagi berusaha ngangetin tubuh gue pake jaket dll. Setelah gue sadar dan mulai mencerna apa yang terjadi, mereka bilang gue kena hipotermia. Gue dipaksa terus melek karena bahaya kalo sampe gue merem, katanya bisa lewat, entah lewat terminal atau lewat kuburan -_-
Guepun dipaksa makan dan disemangatin buat nerusin perjalanan.

Ka Ruru dan Ka Tia yang nyelametin gue di gunung cikuray.
Ka tia ini guru BK di salah satu SMA negeri di Bogor lho!

Beberapa orang yang kesemuanya gak gue kenal pun ngasih semangat gue untuk nerusin perjalanan, ditambah abang gue Fajar Zulni yang turun dari puncak dan ikut memapah gue berjalan sampai kesana. Karena bantuan mereka, guepun berhasil sampai dan ketemu tim gue disana.

Mungkin gue dan para pendaki yang ditemuin disana itu boleh jadi gak akan ketemu lagi, tapi gue yakin gue gak akan bisa lupain kenangan singkat ini, dan di hati gue, mereka semua jadi bagian penting .

Yaps, in every travel, we will always find a new family :)








Gue dan abang gue tercinta, Fajar Zulni .


Quotes of the day : Terkadang untuk sampai puncak, kita memang perlu istirahat sejenak, tapi jangan pernah menyerah. Karena kalau kau menyerah, kau menyia-nyiakan perjalanan yang sudah ditempuh. Asek!

Senin, 29 April 2013

Dongeng sebelum tidur : RAMAYANA Chapter 4

                 Kalimat lain Laksmana juga benar. Adik Rama yang tidak tahan dengan situasi istana, dan akhirnya memutuskan pergi menjadi pertapa itu selalu bijak menilai sesuatu. Shinta berhasil melalui ujian api suci, tapi itu tidak pernah memadamkan resah di hati orang-orang yang tidak mau percaya.

                Hanya berbilang bulan sejak prosesi api suci, bisik-bisik kembali melanda seluruh Ayodya. Kabar burung berhembus bersama angin musim kemarau. Dan bagai api yang membakar rerumputan kering, cepat sekali menjalar, menghanguskan apa saja.

                Orang-orang berbisik bahwa prosesi api suci itu bohong. Mereka ditipu mentah-mentah. Shinta menggunakan ilmu sihir yang diperolehnya dari kerajaan Alengka untuk melewati api suci. Siapa tidak mengenal Rahwana, begitu bertimbun kesaktiannya. Apa susahnya sebelum ia berhasil dikalahkan Rama, Rahwana mengajarkan satu-dua trik kepada Shinta untuk mengatasi hal ini.

                Hanya berbilang bulan pasangan Rama dan Shinta hidup rukun. Saat gelombang kedua kabar kotor itu melanda seluruh Ayodya, cepat dan merusak sekali akibatnya. Suasana istana Ayodya kembali tegang.

                “Kau tidak akan melakukannya, Paduka Rama.” Hanoman, manusia kera, bangsa wanara, kali ini yang bijak menasehati.

                “Tapi bagaimana aku akan menghadapi rakyatku, Pamanda. Dari kota hingga desa, di setiap sudut, pelosok, mereka berbisik tentang hal itu. Bagaimana aku meletakkan wajah seorang Raja yang berwibawa jika mereka tidak percaya dengan Ratunya ? Siapa yang bisa bersaksi Shinta tidak sedang menipu kita semua ? Siapa ?”

                Hanoman menepuk tiang ruangan singgasana, menatap Rama tidak percaya di Taman Asoka. Bukankah kau sendiri yang menyuruhku berbulan-bulan mengintai kerajaan Alengka selama pembuatan jembatan itu, memastikan apakah Shinta baik-baik saja. Istrimu adalah perempuan terhormat. Ia tidak akan berkhianat walau di pikiran sekalipun. Akulah saksinya.”

                Rama menggeleng.

                “Paduka Rama tidak percaya padaku ?”

                “Aku tidak bisa lagi percaya pada siapapun dalam situasi ini, pamanda.” Rama menjawab pelan, tapi cukup sudah mengunci percakapan.

                Ruangan singgasana lengang. Senja merah membungkus langit Ayodya. Urusan itu ternyata masih berbuntut panjang.

                Keputusan kedua diambil. Dan kali ini lebih mengenaskan dari sekadar melewati api suci. Orang ramai berbisik, apapun ujiannya, Shinta yang telah menguasai sihir gelap pasti mampu melewatinya. Lantas ia harus diuji dengan apa? Mudah, usir saja ia dari Ayodya.

                “Kau telah kehilangan akal sehat, paduka Rama.” Hanoman berseru, kepalanya menggeleng-geleng, ekornya mengibas-ngibas. Sungguh ia ingin mengusir kalimat yang baru saja ia dengar dari mulut Rama, “Kau, kau tidak akan melakukannya, bukan ? Itu..., itu berlebihan.”

                Justru sebaliknya, entah pasal apa yang menggelayut di kepala Rama. Entah alasan apa yang membuat Rama begitu gelap mata, keputusan Rama sudah bulat. Duhai, kemanakah cinta mereka selama ini? Empat belas tahun Shinta menemani Rama terusir dari Ayodya, membuktikan pengabdiannya. Berbulan-bulan Shinta tidak sekalipun lalai membisikkan nama Rama di penjara taman Asoka, berharap suami tercintanya tiba, emrebutnya kembali.

                Shinta diusir dari Ayodya. Keputusan itu dibacakan sendiri oleh Rama, dihadapan rakyat banyak yang gegap gempita menyambutnya. Lihat, Rajanya sungguh bijaksana, bahkan istrinya sendiri, jika diragukan kesucian, akan terbuang dari istana. Lihat, ini sungguh mengharukan.

                Hanoman terduduk dalam, terpekur menatap lantai.

                “Apakah kau masih mencintai Shinta, paduka Rama ?” bertanya pelan.

                “Tentu saja, Pamanda. Tentu saja .” Rama menjawab dengan intonasi tersinggung, “Aku mencintainya. Tapi rakyat Ayodya membutuhkan bukti bahwa Shinta akan mampu melewati masa pembuangannya.”

                Hanoman menggeleng sedih, “Bukan rakyat Ayodya. Bukan mereka, tapi Padukalah yang membutuhkan itu semua untuk memadamkan api kecurigaan dalam hati. Camkan ini, Paduka. Esok lusa, Shinta akan berhasil melalui masa terbuangnya, tapi Paduka tidak akan pernah mampu melewati resah itu.”

                Hanoman melangjah perlahan meninggalkan istana. Punggungnya hilang dibalik ribuan rakyat yang mengelu-elukan keputusan rajanya.

                Bagaimana Shinta mendengar perintah pengusiran itu dibacakan sendiri oleh suaminya ? Shinta mengangguk, kali ini ia memang tidak kuasa menahan kesedihan hati. Matanya berkaca-kaca, tapi ia mengangguk patuh. Shinta tidak sedih karena keputusan itu. Ia sedikitpun tidak meragukan cinta Rama. Shinta sedih karena ia tidak kunjung mampu meyakinkan rakyat ayodya, Shinta sedih harus berpisah dengan suami tercinta.

                “Jangan cemaskan aku, kakanda.” Shinta berbisik lemah, “Aku akan baik-baik saja. Masa pembuangan ini tidak akan lama. Apalah arti sepuluh tahun demi membuktikan cinta kita akan abadi. Jangan cemaskan aku, kakanda. Sedikipun jangan terbetik perasaan itu.”

                Senja itu, saat gelap mulai menghampiri ibu kota Ayodya, prosesi pengusiran Shinta dimulai. Tidak ada yang boleh menemaninya. Tidak ada yang boleh membantunya. Rakyat bersorak sorai memenuhi halaman istana, berduyun-duyun puas ingin menonton.

                Resi-resi istana membacakan kdiung kesedihan. Shinta melangkah menuruni anak tangga, mengenakan pakaian putih, selendang putih. Semerbak wangi menyergap hidung-hidung. Tidak, Oh ibu, aku tidak akan menangis. Anakmu tidak akan menangis, waha Dewi Laksmi. Shinta meremas jarinya, menatap sekitar yang mendadak terdiam. Hanya sepuluh tahun terusir dari Ayodya, terpisah dai suaminya, aku akan kuat melewati ujian ini, oh Ibu Dewi Laksmi. Demi cintaku kepada suamiku.

            Dusta takkan bercampur dengan jujur
            Hina takkan bercampur dengan mulia
Oh, minyak takkan pernah menyatu dengan air

Kebaikan takkan bercampur dengan keburukan
Kesetiaan takkan bercampur dengan pengkhianatan
Oh, Dewi Shinta takkan pernah menyatu dengan gadis hina

 Kidung kesedihan resi-resi istana mengambang di langit-langit halaman. Kaki Shinta menyentuh tanah yang berdebu. Senja itu, disaksikan ribuan rakyat, disaksikan Rama yang berdiri memejamkan mata di kursi singgasana. Sendirian Shinta dilepas meninggalkan istana, meninggalkan gerbang ibu kota Ayodya. Melangkah pelan menuju barisan rapat pohon-pohon di hutan rimba. Menjalani ujian sepuluh tahun terbuang. Tanpa seorangpun sempat tahu, bahkan Rama, bahwa Shinta sedang mengandung anak mereka. 

Rabu, 24 April 2013

Dongeng sebelum tidur : RAMAYANA chapter 3


                “Aku tidak bisa mempercayainya begitu saja, Laksmana.” Rama menghembuskan napas panjang, berdiri menatap langit. Tangannya bersidekap resah, sejak tadi siang terus berpikir.

                “Bagaimana mungkin kau tidak mempercayainya, kakanda ?” Laksmana berseru putus asa. 
“Empat belas tahun Shinta setia menemani di hutan rimba. Empat belas tahun hidup penuh penderitaan demi mengabdi pada suamninya. Ditambah berbulan-bulan ditahan oleh Rahwana, berbulan-bulan menanggung penderitaan di sarang raksasa. Bagaimana mungkin kau tidak mempercayai Shinta ?”

                “Berbulan-bulan.” Rama mendesah, “Karena berbulan-bulan itulah, Laksmana. Siapa yang tahu apa yang telah terjadi di Alengka? Siapa yang bisa memastikannya?”

                “Tidak.” Laksmana menggeleng kencang-kencang, seperti berusaha mengusir kalimat Rama barusan jauh-jauh,” Aku tidak percaya kalimat itu keluar dari mulutmu, kakanda.”

                Ruangan singgasana hening sejenak.

                Inilah masalah baru pasangan Rama dan Shinta.


Jutaan rakyat Kosala bersorak senang saat Rama membawa pulang Shinta ke ibu kota Ayodya. Kembalinya Rama juga mengakhiri hukuman empat belas tahun terbuang. Tahta Raja Kosala dikembalikan oleh adiknya, Barata. Kabar tumbangnya Rahwana, raja raksasa penyebab semua masalah daratan India membuat rakyat berpesta. Lebih besar lagi pesta itu karena yang mengalahkan Rahwana adalah raja baru mereka, Rama.

                Tapi kesenangan itu hanya sebentar. Entah siapa yang memulai, bisik-bisik kotor merasuki penduduk kerajaan Kosala. Kabar burung menyebar begitu cepat. Di sudut-sudut istana, di pasar-pasar kumuh, di kampung-kampung. Apalagi kalau bukan kabar burung : Shinta sudah tidak suci lagi. Berbulan-bulan ditawan Rahwana, siapa yang bisa memastikan Shinta tetap mampu menjaga diri?

                Rahwana adalah raksasa licik yang sakti, ia bisa menipu siapa saja, bukan ?

                Bisik-bisik kotor itu bagai jelaga hitam ditumpahkan di langit-langit Ayodya, membuat kelam sejauh mata memandang. Hanya tinggal waktu saja, bisik-bisik itu tiba di telinga Rama. Rakyatnya meragukan kesucian Shinta.

                Apakah Shinta tetap suci ?  Berbulan-bulan ia ditahan di taman Asoka yang indah. Di dalam istana kerajaan Alengka. Dijaga belasan raksasa buruk rupa. Apakah Shinta bisa menjaga kehormatan dirinya?

                Keputusan besar itu diambil Rama. Ia memerintahkan agar ujian kesucian digelar untuk Shinta. Melewati api yang berkobar tinggi. Jika Shinta selamat melaluinya, maka tidak akan ada keraguan lagi.

                “Apakah kakanda masih mencintai Shinta ?” Laksmana bertanya lirih. Keputusan telah diambil, tidak banyak yang bisa dilakukannya.

                “Aku mencintai, Laksmana . Bagaimana mungkin kau bertanya hal itu ?”

                Laksmana tertunduk, “Maka kakanda telah melakukan kesalahan besar. Kepercayaan adalah fondasi penting sebuah cinta, kakanda telah kehilangan fondasi itu. Besok lusa, hal ini akan terulang kembali. Besok lusa, tanpa fondasi tersebut, kakanda hanya akan menjadi olok-olok seluruh penduduk Ayodya.”

                Rama terdiam, menelan ludah, menatap adiknya tidak mengerti. Ruangan singgasana lengang.

                “Bukan, sungguh bukan karena ingin mendengarkan penduduk Ayodya ujian kesucian ini dilakukan.” Laksmana masih tertunduk, “Ujian ini dilakukan hanya untuk menutup resah dihati kakanda. Besok, Shinta akan berhasil melewati kobaran api itu, tapi kakanda tidak akan pernah berhasil memadamkan keresahan itu.”

                Laksmana membungkuk, izin pamit, melangkah hilang diantara helaan napas Rama.

***

                Ujian kesucian itu dilakukan di halaman istana, ditonton ribuan penduduk Ayodya.

                Apakah Shinta menolak ujian tersebut ? Merasa ujian itu melecehkan harga dirinya?

                Shinta bahkan tidak terpikirkan hal buruk sedikitpun. Ia tidak merasa suaminya meragukan dirinya. Ujian ini hanya untuk membuktikan kepada rakyat banyak. Jangankan melewati kobaran api suci, diminta Rama melakukan hal yang lebih sulit dibanding itu ia bersedia.

                Pagi itu , ditengah mendung langit kota Ayodya, api berkobar, menjilat-jilat terasa begitu panas bahkan dari jarak belasan meter. Penduduk yang sejak malam buta berduyun-duyun datang hendak menonton, terdiam menatap kobaran api, menunggu prosesi ujian dimulai.

                Shinta melangkah keluar dari istana. Mengenakan pakaian berwarna putih dan selendang putih. Wajahnya terlihat jelita tanpa riasan sedikitpun, rambutnya terurai panjang, dan halaman luas istana seketika diterpa oleh semerbak wangi yang belum pernah dicium banyak orang.

                Resi-resi istana memulai prosesi. Sebuah kidung dinyanyikan. Puja-puji untuk seorang putri yang akan membuktikan diri.

                Dusta takkan bercampur dengan jujur
                Hina takkan bercampur dengan mulia
                Oh, minyak takkan pernah menyatu dengan air

                Kebaikan takkan bercampur dengan keburukan
                Kesetiaan takkan bercampur dengan pengkhianatan
                Oh, Dewi Shinta takkan pernah menyatu dengan gadis hina

                Habis lagu itu membungkus khidmat, Shinta melangkah mantap menuju kobaran api yang menyala tinggi. Penduduk berseru jerih, beberapa pingsan tidak tahan menonton saat tubuh Shinta ditelan api tersebut. Resi-resi berseru lirih. Rama memejamkan mata, tidak mampu melihat istrinya menuju kobaran api tersebut.

                Laksmana benar. Satu menit berlalu, Shinta melangkah anggun keluar dari kobaran api. Lihatlah, bahkan api tidak kuasa membakar seujung kuku pakaian yang dikenakan Shinta. Penduduk terperangah, sejenak bersorak gembira. Shinta berhasil melewati ujian itu. Gegap gempita memenuhi lapangan istana, Rama menghela napas lega, ikut berseru riang.

                Tetapi cerita jauh dari selesai. 

Dongeng sebelum tidur : RAMAYANA chapter 2


Kau mau tahu kelanjutan kisah Rama dan Shinta ?


Baiklah, biar aku selesaikan cerita ini ..

Nah, apa yang dilakukan Shinta atas semua penderitaan itu ? Ia tidak pergi. Justru menabahkan hati, meneguhkan cinta, berangkat menemani Rama terbuang dari segala kehormatannya. Bagi Shinta, semua urusan sederhana, kemanapun Rama pergi, ia akan terus mengabdi.

Itulah bukti cintanya yang tiada tara. Maka terusirlah Rama dan Shinta, dengan ditemani Laksmana yang sejak kecil selalu menemani kakaknya.

Empat belas tahun bukan waktu yang sebentar. Tinggal di dalam hutan juga bukan masalah yang mudah bagi pasangan itu. Mereka diuji oleh berbagai godaan. Diuji oleh berbagai rintangan. Tidak terhitung begitu banyak raksasa hutan yang selama ini diburu Rama hendak membalaskan sakit hati. Dan puncaknya saat Rahwana, Raja Alengka, berniat menculik Shinta yang jelita.

Kau tahu siapa Rahwana ?

Ia adalah raja para raksasa. Kesaktiannya tiada tara. Tidak ada penduduk bumi yang bisa mengalahkan Rahwana. Bahkan rasa raksasa itu pernah meneror kerajaan langit, membuat para Dewa harus bersatu memaksanya mundur kembali ke bumi. Tidak ada yang bisa menghentikan kesewenangwenangan Rahwana.

Hari naas itu, Shinta melihat seekor anak kijang, begitu lucu, lincah loncat kesana kemari. Aduh, menggemaskan sekali. Shinta meminta Rama mengejar anak kijang itu. Rama yang enggan, akhirnya mengalah, memutuskan mengejar kijang itu, meninggalkan Shinta pada Laksmana, adiknya. Tentu saja kijang itu bukan kijang biasa, melainkan jelmaan raksasa, anak buah Rahwana yang sedang menyamar. Setelah dikejar kesana kemari masuk ke dalam hutan yang lebih lebat, Rama berhasil memanahnya. Seketika kijang itu berubah wujud, berseru meminta tolong, menirukan suara Rama.

Demi mendengar teriakan itu, Shinta panik. Ia cemas suamninya terluka, meminta Laksmana menyusul. Situasi berubah menjadi rumit. Laksmana yang ragu-ragu khawatir itu semua jebakan dari musuh mereka, memutuskan membuat lingkaran di tanah yang melindungi Shinta sepanjang berada di dalamnya.

Laksmana bergegas menyusul Rama, meninggalkan Shinta yang berlindung dalam lingkaran. Tetapi Rahwana tidak kalah akal. Ia menyamar menjadi seorang pertapa tua, berjalan terbungkuk, pura-pura kehausan. Rahwana tidak bisa masuk ke dalam lingkaran, tapi ia bisa membujuk Shinta yang amat perasa terhadap kesedihan dan penderitaan orang lain melangkah keluar mengulurkan kendi air minum.

Sekejap. Saat tangan Shinta keluar dari lingkaran, Rahwana berubah wujud. Cepat ia menyambar tangan Shinta. Membawanya terbang pergi ke kerajaan Alengka yang berada di seberang lautan dataran India. Rahwana tertawa jumawa. Wajah buruk rupanya terbahak puas. Rencana besarnya berhasil. Lihatlah, ia berhasil menculik Shinta.



Rama dan Laksmana yang kembali dari mengejar kijang amat pilu saat tahu istrinya telah diculik Rahwana. Perhiasan istrinya terjatuh di lingkaran perlindungan. Seekor burung garuda, Jatayu, yang kebetulan melihat penculikan tersebut dan berusaha meninggalkannya justru terluka parah. Rahwana jelas-jelas bukan tandingannya.

Maka dimulailah cerita mahsyur itu.

Petualangan Rama menyelamatkan kekasih hatinya, istri tercinta. Rama tahu persis, tidak mudah merebut kembali Shinta dari Rahwana . Kerajaan raksasa itu ribuan kilometer dari seberang lautan. Dan menyerbu tanpa persiapan ke sarang raksasa, sama saja bunuh diri namanya.

Rama memutuskan meminta bantuan bangsa wanara, alias manusia kera. Melalui sebuah perjanjian saling membantu, ribuan pasukan manusia kera dipimpin oleh panglimanya yang mahsyur, Hanoman, berangkat ke medan perang. Juga ribuan ksatria dari kerajaan-kerajaan lain yang terketuk hatinya melawan Rahwana.

Tapi masalah pertama langsung menghadang rombongan itu, bagaimana menyebrangi lautan ?  Tidak semua anggota pasukan manusia kera bisa terbang. Bagaimana mereka bisa melewati lautan ribuan kilometer, sementara entah apa nasib Shinta di kerajaan Alengka sekarang. Berhari-hari Rama meminta bantuan Baruna, dewa yang mengurus samudera. Baruna menolaknya, menolak terlibat dalam pertempuran.

Rama habis kesabaran, di penghujung hari ketiga, Rama mengangkat busur Dewa Siwa, berdiri penuh rasa marah, menghadap lautan yang menghambat mereka. Anak panah ditarik, dan Rama berseru lantang, “Jika kau tidak mau membantuku, wahai Baruna, akan aku keringkan seluruh lautan ini dengan anak panahku.”

                Menggetarkan sekali melihat ancaman Rama. Itu bukan senjata biasa. Itu pusaka paling sakti milik dunia. Baruna gemetar berpikir. Pilihannya terbatas, binasa seluruh lautan, atau membantu penyerbuan Rama.  Maka Baruna menawarkan membangun sebuah jembatan, lebih lambat, tapi itu lebih masuk akal. Rama, Laksmana, dan Hanoman menyetujuinya.

Segera, semua pekerja dikerahkan, siang malam, termasuk penduduk lautan. Dalam waktu singkat, jembatan dahsyat itu terwujud, membentang panjang atas nama cinta.

Dengan jembatan yang kokoh, pasukan manusia kera bagai gelombang air bah menyerbu kerajaan Alengka. Pertempuran tidak dapat dihindarkan lagi. Ribuan prajurit raksasa bertahan, membela setiap jengkal istana. Duel dahsyat antara Rama dan Rahwana menjadi legenda.

                Dua duanya sama digdaya, bertempur di langit-langit kerajaan Alengka. Dentum merah, kuning, biru, membuat terang langit malam. Kelebatan cahaya jingga, kuning, hijau memedihkan mata. Panah sakti milik Rama akhirnya menghujam dada Rahwana. Raja raksasa paling sakti itu tumbang ke bum. Rahwana, raja raksasa yang pernah ada pernah membuat rusuh kerajaan langit, akhinya dikalahkan.




                Shinta berhasil direbut kembali.

                Sayangnya, cerita baru saja dimulai. Bukan, sungguh bukan petualangan Rama merebut Shinta dari Rahwana yang menjadi cerita utamanya, seperti yang disangkakan orang-orang, seperti yang lebih suka didengar orang banyak. Cerita pentingnya justru baru dimulai persis saat pasangan abadi itu kembali ke Ayodya.

                Tentang kepercayaan. Tentang salah-satu fondasi dasar sebuah cinta.

                Kau mau mendengar kelanjutan cerita Rama dan Shinta ?             

Dongeng Sebelum Tidur : RAMAYANA chapter 1


Malam. Udara pegunungan di kaki gunung salak mulai memaksa bulu-bulu halus tanganku tegak berdiri. Dingin.

                Dalam gelap itu di dalam tenda, aku dan beberapa teman belum jua tertidur padahal satu-dua tenda di sebelah kami mulai senyap, terlelap.

                Seperti yang ingin aku lakukan pada anak-anakku nanti menjelang tidurnya, malam ini aku mendongengkan cerita . Rainal, Echa dan Mumu menyimak seksama, mata mereka terpejam. Aku menarik tubuhku masuk ke dalam kantung tidur. Dan dalam serak dan paraunya suara, kisah itu dimulai..

                Cerita ini sungguh kalian pasti pernah mendengarnya, salah satu legenda favorite-ku. Namun banyak yang tidak tahu alur ceritanya. Aku juga tidak membaca legenda dari negeri bombay ini lewat manuskrip usang, aku justru membacanya dari sebuah novel modern karya darwis tere liye, sepotong hati yang baru.

                Dan malam itu .. aku menceritakan kembali kisah Ramayana yang sudah diceritakan ulang oleh jutaan orang lainnya, supaya nasihatnya terus ada dan menjadi pelajaran buat siapapun yang mendengarnya.



               Baiklah,

                Cerita ini berasal dari negeri India. Siapa yang tidak mengenal Rama, pangeran gagah dari kerajaan Kosala. Ia tampan tak terkira. Ia pintar tiada dua. Dan jangan tanya soal kepribadiannya, Rama adalah pemuda tiada tandingan. Semua orang akan terpesona hanya dengan menatap wajahnya.

                Lantas siapa yang tidak mengenal Shinta, gadis rupawan, puteri kerajaan Wideha? Ia cantik tak terperi. Ia pintar tiada tanding. Dan jangan tanya soal budi pekertinya, Shinta adalah gadis yang tumbuh dalam asuhan luhur. Semua orang bahkan terpesona hanya dengan mendengar bisik-bisik bagaimana jelita rupanya.

                Mereka berdua seperti ditakdirkan menjadi pasangan abadi, Rama-Shinta, dan sudah abadilahcerita mereka.

                Kau tahu, bagaimana mereka berdua berjodoh satu sama lain ?

                Tidak, tentu saja tidak seperti pasangan kebanyakan. Ah, kalau sama dengan orang banyak. Apa istimewanya ? Pemuda gagah itu, Rama, sedang dalam misi berbahaya menumpas para raksasa di hutan rimba saat terbetik kabar, raja Wideha mengadakan sayembara. Gadisnya yang rupawan sudah cukup usia, bagai bunga mekar, sudah saatnya menikah dengan salah satu pangeran terbaik di seluruh India. Maka demi kabar besar itu, berduyun-duyunlah semua kerajaan mengirimkan pasukan mereka.

                “Kau harus ikut serta, Kakanda.” Laksmana, adik Rama yang setia menemani mereka berpetualang menumpas raksasa membujuk.

                “Astaga, kau ingin kakamu ini mendapatkan jodoh melalui sebuah sayembara? Itu jelas bukan awal kisah cinta sejati, tidak akan ada Resi yang pernah menulisnya.” Rama menggeleng.

                “Setidaknya kakanda bersedia melihat dulu puteri itu. Menurut kabar, wangi kulitnya semerbak hingga ratusan meter. Matanya mampu meruntuhkan dinding kesombongan. Dan hatinya, bahkan bisa menaklukan senjata paling hebat di dunia.” Laksmana mengedipkan mata, tidak habis akal membujuk, “Setelah dilihat, nanti baru kakanda putuskan sendiri apakah akan menulis kisah cinta sejati dari sebuah sayembara atau bukan?”

                Baiklah, seperti apa omong kosong kecantikan gadis itu, Rama mendengus.  Memasang busur dan anak panah di punggung. Melupakan sebentar misi petualangan mereka. Berputar haluan, berangkat menuju ibu kota Wideha.

                Jika kau hendak bertanya apakah cinta pada pandangan pertama itu, maka kau bisa bertanya pada pasangan Rama dan Shinta.

                Ketika seluruh pangeran sudah berkumpul di balai agung ibu kota Wideha, Rama yang tiba terlambat justru salah memasuki ruangan. Sebuah kesalahan yang memantik nyala perasaan berpijar-pijar. Bagaimana mungkin ia sungguh tidak terpesona oleh betapa cantiknya Shinta? Kabar itu bukan dusta. Dan iapun terpesona saat melihat gadis itu sedang membantu dayang-dayang yang tidak sengaja menumpahkan nampan berisi buah-buahan.

                Rama yang tertegun menatap gadis yang riang membantu dayang-dayangnya, mencengkram lengan Laksmana disampingnya tanpa sengaja.

                “Siapakah gadis itu?” Rama berbisik.

                Shinta lebih dulu menoleh. Dayang-dayang berseru pelan, kaget ada laki-laki memasuki bangunan khusus perempuan.

                “Maaf, sungguh maafkan kami.” Rama mengangkat tangannya, bergegas menyadari kekeliruan.
                Shinta menatap sejenak wajah pemuda di hadapannya. Memeriksa wajah serba salah, serba tanggung, dan ketahuan baru saja begitu terpesona melihat dirinya.

Ah, pemuda ini pastilah pengembara, Shinta tersenyum manis. Pemuda gagah ini pastilah salah satu petualang yang telah mengelilingi dunia. Seperti banyak pengunjung lainnya, ikut hadir meramaikan ibukota menonton sayembara besar.

Itulah pertemuan pertama mereka. Percakapan pendek yang kaku, patah-patah, malu-malu tapi mengesankan. Shinta tidak menduga kalau pemuda dengan pakaian ksatria biasa tapi dengan tutur kata menawan bagai seorang pangeran memang seorang pangeran terhormat, sungguh sebuah kejutan menarik saat ia tahu pemuda itu mengikuti sayembara.

Kau tahu, sayembara itu mudah sekaligus rumit. Mudah, karena semua peserta tidak diminta berlomba memanah, mengejar atau membunuh raksasa. Mereka juga tidak diminta saling mengalahkan. Tidak ada pertandingan fisik. Mereka hanya diminta menarik busur, pusaka kerajaan Wideha. Nah, itulah rumitnya. Busur itu sungguh bukan busuru biasa, itu busur milik Dewa Siwa yang dihadiahkan ke bumi. Jangankan menarik talinya, mengangkat busur itu saja tidak banyak yang mampu.

Tentu saja, Rama yang memenangkan sayembara itu.

Rama adalah ksatria hebat. Ia dikenal mampu menaklukan banyak raksasa di zaman itu, tapi itu tetaplah busur hadiah Dewa Siwa-senjata paling menggetarkan di seluruh daratan India. Jika satu anak panahnya terhujam ke bumi, konon dunia akan merekah bagai sebutir jeruk yang terbelah. Entah kekuatan apa, boleh jadi karena kekuatan cinta.

Lihatlah, di sebelah kursi singgasana, Shinta tersipu malu. Ikut bersorak senang saat Rama berhasil menarik tali busur. Mereka berjodoh, sayembara telah berakhir. Pernikahan antara Rama dan Shinta segera dilangsungkan.

Lepas pernikahan, pasangan muda itu kembali ke Ayodya, ibu kota kerajaan Kosala. Bukan main, senang alang kepalang Raja Kosala melihat anaknya telah meperistri seorang bidadari. Raja Kosala yang uzur, bahkan hendak mengangkat Rama menjadi raja. Apalagi yang kurang? Masa depan kerajaan akan gemilang di tangan putra sulungnya tersebut.

Tetapi ada yang tidak senang dengan rencana tersebut. Ibu tiri Rama, istri muda Raja Kosala, merasa anaknya, Barata, lebih berhak menjadi raja. Nasib malang menimpa pasangan muda tersebut. Melalui sebuah intrik yang licik, Rama dan Shinta justru terusir dari Ayodya. Mereka dibuang ke hutan rimba selama empat belas tahun. Barat, adik tiri Rama menjadi naik tahta. Raja Kosala yang menyesali situasi meninggal dalam kesedihan panjang.
***

Apa yang dilakukan Shinta atas semua penderitaan itu ? Aku bertanya. Hening.

Malam makin larut, suaraku mulai berat. Aku menatap sekeliling. Para pendengar setiaku sempurna terlelap semuanya. Padahal cerita ini bahkan belum dimulai.

Aku menghela nafas, suatu hari aku akan melanjutkan kisah ini, besok pendakian baru akan di mulai. Mau tidak mau, malam ini aku harus tertidur.

Selamat malam, semoga mimpi indah.

Tanganku menengadah keatas, membaca doa sebelum tidur. Angin berdesir seakan ikut mengucapkan kata “Aamiin.”